BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Menurut Slamet
(2003), program penyuluhan pembangunan yang efektif dan efisien dapat
dikembangkan oleh tenaga-tenaga profesional di bidang penyuluhan pembangunan
Hal ini hanya memungkinkan apabila program penyuluhan diwadahi oleh sistem
kelembagaan penyuluhan yang jelas dan pelaksanaanya didukung oleh tenaga- tenaga-tenaga yang kompeten di bidang penyuluhan. Peningkatan
kompetensi penyuluh dalam pembangunan pertanian, bisa dikondisikan melalui
berbagai upaya seperti: (1) meningkatkan efektivitas pelatihan bagi penyuluh,
(2) meningkatkan pengembangan diri penyuluh melalui peningkatan kemandirian
belajar dan pengembangan karir penyuluh, (3) meningkatkan dukungan terhadap
penyelenggaraan penyuluhan seperti dukungan kebijakan pemerintah daerah
terhadap pendanaan penyuluhan, dukungan peran kelembagaan, dukungan teknologi
dan sarana penyuluhan, pola kepemimpinan yang berpihak petani dan (4) memotivas
pribadi penyuluh untuik selalu meningkatkan prestasi kerja (kinerja penyuluh) dan
mengikuti perubahan lingkungan strategis yang ada (Marliati.,et al, 2008).
Sajogyo (Yunita 2011: 164) menyatakan bahwa program yang
dilaksanakan hendaknya mampu memanfaatkan potensi kelembagaan yang berakar kuat
dalam struktur masyarakat lokal mau dan mampu mengelola potensi yang dimiliki.
Dalam menjalankan kegiatan usaha, masyarakat memerlukan modal, pengetahuan, dan
keterampilan yang relevan, namun tidak selalu tersedia
ataupun tidak terpenuhi di tingkat lokal. Karena itu penyuluh pertanian/tenaga
pendamping bertugas mengelola sistem yang dapat memperlancar upaya masyarakat
memperoleh kebutuhan tersebut baik secara individu maupun kelompok.(Kusrini.,et al,2013).
1.2 Rumusan Masalah
1.
Apa yang melatar belakangi adanya kegiatan penyuluhan?
2.
Apa pengertian penyuluhan?
3.
Apa peranan penyuluhan dalam pembangunan?
1.3 Tujuan
1.
Untuk mengetahui hal yang melatar belakangi adanya kegiatan
penyuluhan.
2.
Untuk mengetahui pengertian penyuluhan
3.
Untuk mengetahui peranan penyuluhan dalam pembangunan.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Latar belakang adanya
kegiatan penyuluhan
Penyuluhan mempunyai peran penting
terutama dalam penguatan masyarakat guna memperluas akses akan informasi,
inovasi, dan akses akan layanan publik. Penyuluhan juga sangat diperlukan
eksistensinya untuk mendukung kehidupan umat manusia. Dalam menjalankan
kegiatan penyuluhan diperlukan adanya
kesadaran masyarakat akan hidup sehat semakin meningkat, kondisi alam
dan lingkungan yang semakin memburuk, kesadaran politik yang semakin tinggi,
serta untuk pengembangan karakter anak bangsa yang menjunjung tinggi
nilai-nilai sosial budaya masyaraakat nusantara, sehingga ketika kesadaran
masyarakat sudah tertanam maka masyarakat akan menjadi hidup damai dan
sejahtera. Hal ini diperkuat oleh Amanah, 2007 yang menyatakan bahwa Di sisi
lain, penyuluhan di bidang non-primer, diperlukan mengingat kesadaran
masyarakat akan hidup sehat semakin meningkat, kondisi alam dan lingkungan yang
semakin memburuk, kesadaran politik yang semakin tinggi, serta untuk
pengembangan karakter anak bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai sosial
budaya masyaraakat nusantara.
Tujuan kegiatan
penyuluhan tidak bisa dicapai oleh satu pihak. Oleh karena itu diperlukan
adanya kerjasama dari pihak yang terkait untuk mensukseskan pelaksanaan kegiatan
penyuluhan. Dalam bidang perikanan, untuk mensukseskan kegiatan pembangunan perikanan, pemerintah
harus menyediakan fasilitas-fasilitas yang menunjang keberhasilan tersebut,
sehingga ketika fasilitas-fasilitas tersebut terpenuhi diharapkan tujuan dari
pembangunan dapat tercapai. Fasilitas utama yang harus ada adalah penyuluhan
perikanan. Hal ini diperkuat oleh Bambang, 2010 yang menyatakan bahwa Dalam
mensukseskan pelaksanaan pembangunan perikanan guna mencapai sasaran yang
diinginkan maka pemerintah menyediakan berbagai fasilitas-fasilitas yang
menunjang keberhasilan pembangunan perikanan tersebut. Salah satu fasilitas
utama yang ada adalah penyuluhan perikanan. Penyuluhan pada hakekatnya
bertujuan untuk merubah perilaku manusia agar dapat bersifat responsife
terhadap pembangunan. Kegagalan dalam pelaksanaan penyuluhan berarti kegagalan
dalam mencapai tujuan/sasaran pembangunan yang diinginkan. Ini berarti
penyuluhan merupakan bagian dari sistem yang tak terpisahkan dengan pembangunan
perikanan.
2.2 Pengertian Penyuluhan
Penyuluhan merupakan sebuah ilmu yang berupa tindakan praktis.
Penyuluhan mempunyai pondasi ilmiah berupa perilaku manusia yang di dalamnya
ditelaah pola piker, tindak, dan sikap manusia dalam menghadapi kehidupan.
Dalam bidang perikanan merupakan unsur pelaksana, sehingga untuk memenuhi
kebutuhan pelaku utama dan pelaku usaha, diperlukan Standar Kompetensi Kerja
Nasional Indonesia (SKKNI). Hal ini diperkuat oleh Amanah, 2007 yang menyatakan
bahwa Istilah
penyuluhan seringkali diasosiasikan dengan penerangan atau propaganda oleh
khalayak, padahal makna penyuluhan tidaklah sedangkal itu. Penyuluhan dapat
dipandang sebagai sebuah ilmu dan tindakan praktis. Sebagai sebuah ilmu,
pondasi ilmiah penyuluhan adalah ilmu tentang perilaku (behavioural science).
Di dalamnya ditelaah pola pikir, tindak, dan sikap manusia dalam menghadapi
kehidupan.
Penyuluhan merupakan pendidikan non
formal yang berasal dari kata suluh, yang artinya menyampaikan pesan kepada si
penerima. Konteks penyuluhan melibatkan seseorang yang dianggap mampu secara
fungsional untuk melakukan penyuluhan. Hal ini diperkuat oleh Bambang, 2010
yang menyatakan bahwa Penyuluhan merupakan pendidikan non formal, dimana dalam
konteks penyuluhan melibatkan para petani nelayan dan dilakukan oleh penyuluh
maupun seseorang yang dianggap mampu secara fungsional untuk melakukan
penyuluhan. Penyuluhan ditunjukkan kepada petani, nelayan, dan keluarganya,
untuk merubah pola piker para petani nelayan guna melaksanakan usaha tani
(firm) yang lebih baik. Pendidikan non formal ini berisi pesan /pemberian
informasi, agar orang tahu dan sesudahnya mau diajak untuk melaksanakan apa
yang dianjurkan atau disuluhkan tadi. Dengan informasi teknologi dan komunikasi
yang baik, diharapkan petani nelayan mampu menciptakan nilai tambah dalam
meningkatkan produktivitas, pendapatan, dan kesejahteraannya.
2.3 Peranan Penyuluhan dalam Pembangunan
Pembangunan diartikan secara umum pada hakekatnya
adalah proses perubahan yang terus menerus untuk menuju keadaan yang lebih baik
berdasarkan norma-norma tertentu. Istilah pembangunan biasnya dapat diartikan
sebagai proses untuk melakukan perubahan. Istilah pembangunan sendiri mempunyai
beberapa tujuan diantaranya yaitu:
1)
Tujuan umum pembangunan adalah suatu proyeksi terjauh dari
harapan-harapan dan ide-ide manusia komponen-komponen singkat dari yang terbaik
atau masyarakat ideal yang terbaik yang dapat dibayangkan
2)
Tujuan khusus pembangunan adalah tujuan jangka pendek, biasanya dipilih
sebagai tingkat pencapaian sasaran dari suatu program tetentu.
Hal ini di perkuat oleh
Henryk, 2013 yanag menyatakan bahwa pengertian pembangunan adalah suatu proses
menggambarkan adanya pengembangan baik meliputi proses pertumbuhan ataupun
perubahan dalam kehidupan masyarakat luas. Pembanguanan sendiri menuju
polaa-[ola masyarakat yang memungkinkan realisasi lebih baik dari nilai-nilai
kemanusiaan yang memungkinkan masyarakat mempunyai kontrol terhadap lingkungan
tujuan politik.
Pembanguanan dapat di terapkan dalam bidang
perikanan sebagaimana supaya
dalam bidang perikanan tersebut dapat menjadi perikanan yang lebih baik
dan maju. Contoh npembangunan dalam bidang perikanan adalah sarana prasarana,
keterbatasan sarana dan prasarana yang dperlukan untuk menunjang pembangunan
merupakan slah satu faktor rendahnya tingkat pertumbuhan ekonomi. Menanggapi
masalah tersebut dapat diatasi dengan melakukan penbangunan infrastruktur
secaara lengkap demi memacu perkembangan
pembangunan kelautan. Hal ini diperkuat oleh Bambang, 2010 yang
menyatakan bahwa sebagai suatu kegiatan penyuluhan pembangunan dilaksanakan dan dirasakan kebutuhanaya demi
menunjang pembangunan khususnya dibidang perikanan. Pentingnya penyuluhan
perikanan didalam pross pembangunan adalah sebagai jembatan antara dunia ilmu
dan pemerintah serta jembatan antara dunia penelitian dan praktek yang
dilakukan oleh para petani nelayan.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan
uraian tersebut, kesimpulan yang dapat diambil yaitu :
1.
Penyuluhan sangat diperlukan sebagai fasilitas yang disediakan
oleh pemerintah dan membutuhkan kesadaran dari masyarakat akan kebutuhan yang
semakin meningkat untuk tercapainya tujuan penyuluhan berupa kesejahteraan
bersama.
2.
Penyuluhan merupakan pendidikan non formal yang merupakan
sebuah ilmu berupa tindakan praktis yang melibatkan seseorang yang mampu secara
fungsional untuk melakukan penyuluhan.
3.
Penyuluhan dalam pembangunan
perikanan merupakan suatu proses yang menggambarkan adanya pengembangan, baik
meliputi proses pertumbuhan (growth) ataupun perubahan (change)
dalam kehidupan bersama (organisasi) sosial dan budaya sebagai “jembatan”
antara antara dunia penelitian dengan praktek yang dilaksanakan di lapangan.
3.2
Saran
Berdasarkan kesimpulan tersebut, saran yang dapat diberikan yaitu :
1.
Sebaiknya pemerintah meningkatkan
kesadaran masyarakat dengan cara ,menyediakan fasilitas baik fisik maupun
material untuk menjalankan penyuluhan.
2.
Sebaiknya perlu diadakannya peningkatan
standar kompetensi bagi para penyuluh untuk menghadapi kondisi di lapangan agar
penyuluhan dapat berjalan dengan baik dan lancar.
3.
Sebaiknya masyarakat bisa
menerapkan tindakan dari hasil kegiatan penyuluhan agar hasil kegiatan dari
penyuluhan tersebut, sehingga tujuan dari penyuluhan dapat benar-benar
tercapai.
DAFTAR PUSTAKA
Amanah, S. 2007. Makna
Penyuluhan dan Transformasi Prilaku Manusia.3.1.
Amanah, S.2008.Sistem
Penyuluhan Perikanan dlam Mengantisipasi Era Perubahan.8.2.
Bambang.2010.Penyuluhan
Pembangunan Perikanan.Universitas Diponegoro.Semarang.
Henryk.S.2013.Partisipasi
Masyarakat dalam Pembangunan di Kelurahan Sungai Keledang Kecamatan Samarinda
Seberang Kota Samarinda.1.2
Kusrini.A.Amanah.A.Fatchiya.2013.Sikap
Masyarakat terhadap Program Pengembanagan Desa Pesisir Tangguh Teluk Naga
Tangerang Banten.
Marliati,
Sumardjo, P.S. Angari.P.T.A.Sarfuddin.2008.Faktor Penentu Peningkatan Kinerja
Penuluh Pertanian dalam Memberdayakan Petani.4.2.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar