Rabu, 21 November 2018

Coelenterata

 BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
  Coelenterata atau yang juga biasa disebut dengan Cnidaria adalah filum hewan yang memiliki tubuh sangat sederhana. Kata Coelenterata berasal dari kata coelos yang berarti rongga dan enteron yang berarti usus. Jadi, Coelenterata adalah hewan yang memiliki rongga di dalam tubuhnya yang sekaligus berfungsi sebagai organ pencernaan makanan. Coelenterata disebut sebagai hewan sederhana karena jaringan tubuhnya hanya terdiri dari dua lapis sel, yaitu sel internal dan eksternal. Terdapat sekitar 10.000 spesies  Coelenterata yang sebagian besar hidup di laut.
Sebagian hidup secara soliter, sedangkan sebagian lain hidup berkoloni. Tubuhnya simetri radial. Jika dipotong tubuhnya melalui sumbu tubuh maka akan mendapatkan beberapa bagian yang sama. Memiliki rongga gastrovaskuler yang berfungsi untuk mencerna makanan. Tubuhnya hanya memiliki satu lubang yang berfungsi sebagai mulut sekaligus anus. Merupakan hewan diploblastik. : ektodermis (epidermis) dan endodermis (gastrodermis). Mempunyai tentakel yang berfungsi untuk memasukkan makanan ke dalam mulut. Tentakel dilengkapi dengan sel penyengat yang disebut dengan knidosit (cnidoblast). Memiliki dua bentuk tubuh, yaitu polip dan medusa. Hidupnya  : kebanyakan di laut, beberapa di air tawar.
Coelenterata merupakan diploblastik, hewan ini mempunyai dua lapis sel yaitu ektoderm yang merupakan lapisan sel luar dan endoderm yang merupakan lapisan dalam. Coelenterata memiliki dua bentuk tubuh, yaitu polip dan medusa. Pada bentuk polip (seperti tabung), coelenterata memiliki mulut di bagian dorsal yang dikelilingi oleh tentakel. Sedangkan pada bentuk medusa yang berbentuk seperti cakram, mulut coelenterata terletak di bagian bawah (oral) dan tubuhnya dikelilingi oleh tentakel.
Coelenterata dapat bereproduksi baik dengan cara generatif (seksual) maupun vegetatif (aseksual). Reproduksi secara generatif terjadi saat sel sperma jantan membuahi sel telur (ovum) betina. Sedangkan perkembangbiakan secara aseksual berlangsung dengan cara pembentukan tunas pada sisi tubuh coelenterata yang akan tumbuh menjadi individu baru setelah lepas dari tubuh induknya.
Beberapa jenis coelenterata juga mengalami metagenesis (pergiliran keturunan), yaitu perkembangbiakan seksual yang diikuti oleh perkembangbiakan aseksual pada satu generasi. Pada coelenterata jenis ini, tubuh akan memiliki bentuk polip pada satu fase hidupnya, kemudian berbentuk medusa pada tahap selanjutnya.
Beberapa jenis coelenterata dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku kosmetik bahkan bisa diolah menjadi agar-agar. Sebagian lain membentuk terumbu karang yang bisa menahan gelombang. Beberapa spesies coelenterata juga memberikan pemandangan indah di dasar lautan dengan warna dan bentu mereka yang unik.

1.2         Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang di atas, maka dapat dibuat beberapa rumusan masalah seperti:
1.       Apa pengertian coelenterata ?
2.             Bagaimana Ciri-ciri Coelenterata ?
3.             Bagaimana Struktur Tubuh Coelenterata ?
4.             Bagaimana Klasifikasi Coelenterata ?
5.             Bagaimana Reproduksi Coelenterata ?
6.             Apa saja Peranan Coelenterata ?


1.3         Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah berdasarkan uraian rumusan masalah di atas, yaitu:
1. Untuk mengetahui pengertian Coelenterata.
2.      Untuk mengetahui Ciri-ciri Coelenterata.
3.      Untuk mengetahui Struktur Tubuh Coelenterata.
4.      Untuk mengetahui Klasifikasi Coelenterata.
5.      Untuk mengetahui Reproduksi Coelenterata.
6.      Untuk mengetahui Peranan Coelenterata.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1     Pengertian Coelenterata
Coelenterata berasal dari dua kata yaitu yaitu Coelos yang berarti rongga dan Enteron yang berarti usus. Coelenterata merupakan hewan invertebrata yang mempunyai rongga dengan bentuk tubuh seperti tabung dan mulut yang dikelilingi oleh tentakel. Ukuran tubuhnya merupakan yang paling besar baik yang soliter maupun yang berbentuk koloni jika dibandingkan dengan invertebrata lainnya. Cara hidupnya yang melekat didasar perairan, disebut polip, ada yang berenang bebas disebut medusa. binatang penghuni terumbu karang terbagi dalam tiga kelompok berdasarkan waktu dan usaha memperoleh makanannya. Kelompok pertama merupakan binatang yang mencari makan diluar atau disekitar terumbu karang pada waktu malam hari dan tinggal atau istirahat didaerah terumbu karang pada waktu siang harinya. Kelompok kedua, merupakan kebalikannya, mencari makan pada siang hari dan kembali untuk tinggal atau istirahat didaerah terumbu karang pada malam harinya. Sedang kelompok ketiga adalah keompok yang selalu berada di daerah terumbu karang, tinggal, istirahat dan mencari makan di daerah ini. Salah satu di antara sekian banyak binatang itu adalah anemon laut yang bentuk tubuhnya menyerupai bunga.
            Menurut Soekarno et al. (1981) dalam Hadi dan Sumadiyo (1992), golongan Coelenterata merupakan in-vertebrata yang sebagian besar hidupnya di laut. Ukuran tubuhnya merupakan yang paling besar baik yang soliter maupun yang berbentuk koloni jika dibandingkan dengan invertebrata lainnya. Cara hidupnya yang melekat didasar perairan, disebut polip, ada yang berenang bebas disebut medusa. binatang penghuni terumbu karang terbagi dalam tiga kelompok berdasarkan waktu dan usaha memperoleh makanannya. Kelompok pertama merupakan binatang yang mencari makan diluar atau disekitar terumbu karang pada waktu malam hari dan tinggal atau istirahat didaerah terumbu karang pada waktu siang harinya. Kelompok kedua, merupakan kebalikannya, mencari makan pada siang hari dan kembali untuk tinggal atau istirahat didaerah terumbu karang pada malam harinya. Sedang kelompok ketiga adalah keompok yang selalu berada di daerah terumbu karang, tinggal, istirahat dan mencari makan di daerah ini. Salah satu di antara sekian banyak binatang itu adalah anemon laut yang bentuk tubuhnya menyerupai bunga.

2.2     Ciri-ciri Coelenterata
Ciri-ciri keseluruhan dari Coelenterata adalah tubuh radial simetris (silindris, globural, atau spherikal), Dinding tubuh dipoblastik (Eksoderm dan Endoderm) yang memiliki sel penyengat, Tidak memiliki anus, hanya memiliki mulut yang dilengkapi tentakel-tentakel, Sistempencernaan tidak lengkap hanya berupa rongga gastrovaskular, belum mempunyai alat pernafasan, sirkulasi, maupun alat ekskresi khusus. Pada karang, berbagai spesies dan bentuk karang bersama-sama dengan makhluk hidup lainnya membentuk suatu ekosistem. Proses pembentukan terumbu karang memakan waktu yang lama dan selama itu pula ia dihuni oleh berbagai makhluk hidup lainnya. Arsitektur terumbu karang yang mengagumkan dibentuk oleh ribuan binatang kecil yang disebut dengan polip. Dalam bentuk sederhananya karang dapat terdiri dari satu polip saja yang mempunyai bentuk tubuh seperti tabung dengan mulut yang terletak di bagian atas dan dikelilingi oleh tentakel. Dalam banyak spesies karang, individu polip berkembang menjadi banyak individu yang disebut dengan koloni.
Menurut Rembet (2012), terumbu karang (coral reef) merupakan ekosistem dasar laut yang penghuni utamanya berupa karang batu. berbagai spesies dan bentuk karang bersama-sama dengan makhluk hidup lainnya membentuk suatu ekosistem. Proses pembentukan terumbu karang memakan waktu yang lama dan selama itu pula ia dihuni oleh berbagai makhluk hidup lainnya. Arsitektur terumbu karang yang mengagumkan dibentuk oleh ribuan binatang kecil yang disebut dengan polip. Dalam bentuk sederhananya karang dapat terdiri dari satu polip saja yang mempunyai bentuk tubuh seperti tabung dengan mulut yang terletak di bagian atas dan dikelilingi oleh tentakel. Dalam banyak spesies karang, individu polip berkembang menjadi banyak individu yang disebut dengan koloni.

2.3     Struktur Tubuh
Struktur tubuh dari coelenterata pada umumnya terdiri dari empat bagian yaitu berupa keping mulut, badan, pangkal, dan tentakel-tentakel. Pada anemon laut, Lipatan yang bundar diantara badan dan keping mulut membagi binatang ini kedalam kapitulum di bagian atas dan scapus bagian bawah. Di antara lengkungan seperti leher (collar) dan dasar dari kapitulum terdapat "fossa". Hubungan antara keping kaki atau pangkal (pedal disc) dan badan disebut limbus. Dalam keadaan berkontraksi, bagian tepi otot "sphincter' yang terletak pada dasar dari kapitulum dapat berfungsi untuk membuka dan menutup keping mulut. Keping mulut bentuknya datar, melingkar, kadang-kadang mengkerut, dan dilengkapi dengan tentakel kecuali pada jenis Limnactinia, keping mulut tidak dilengkapi dengan tentakel. Lubang mulut terletak pada daerah yang lunak yang disebut peristome. Tentakel yang mengandung nematokis (sel penyengat), jumlahnya bervariasi dan umumnya menutupi oral disc, tersusun melingkar atau berderet radial. Jumlah tentakel biasanya merupakan kelipatan dari enam dan tersusun dalam dua deret lingkar-an berturut-turut dimulai dari lingkaran yang paling dalam. Kelipatan yang dimaksud adalah 6 tentakel pertama (paling dalam dan paling tua), 6 bagian tentakel kedua, 12 bagian tentakel ketiga, 24 bagian tentakel ke empat dan seterusnya. Tentakel pertama biasanya ukurannya paling besar, makin besar jari-jari lingkarannya, ukurannya ma-kin kecil. Pada umumnya anemon laut mempunyai septa yang berpasangan.
Menurut Dunn (1981) dalam Hadi dan Sumadiyo (1992), Anemon laut terdiri dari empat bagian yaitu berupa keping mulut, badan, pangkal, dan tentakel-tentakel. Pada anemon laut, Lipatan yang bundar diantara badan dan keping mulut membagi binatang ini kedalam kapitulum di bagian atas dan scapus bagian bawah. Di antara lengkungan seperti leher (collar) dan dasar dari kapitulum terdapat "fossa". Hubungan antara keping kaki atau pangkal (pedal disc) dan badan disebut limbus. Dalam keadaan berkontraksi, bagian tepi otot "sphincter' yang terletak pada dasar dari kapitulum dapat berfungsi untuk membuka dan menutup keping mulut. Keping mulut bentuknya datar, melingkar, kadang-kadang mengkerut, dan dilengkapi dengan tentakel kecuali pada jenis Limnactinia, keping mulut tidak dilengkapi dengan tentakel. Lubang mulut terletak pada daerah yang lunak yang disebut peristome. Tentakel yang mengandung nematokis (sel penyengat), jumlahnya bervariasi dan umumnya menutupi oral disc, tersusun melingkar atau berderet radial. Jumlah tentakel biasanya merupakan kelipatan dari enam dan tersusun dalam dua deret lingkar-an berturut-turut dimulai dari lingkaran yang paling dalam. Kelipatan yang dimaksud adalah 6 tentakel pertama (paling dalam dan paling tua), 6 bagian tentakel kedua, 12 bagian tentakel ketiga, 24 bagian tentakel ke empat dan seterusnya. Tentakel pertama biasanya ukurannya paling besar, makin besar jari-jari lingkarannya, ukurannya ma-kin kecil. Pada umumnya anemon laut mempunyai septa yang berpasangan.

 Sumber : Hadi dan Sumadiyo (1992). 
 
2.4     Klasifikasi Coelenterata
Coelenterata terdapat beberapa kelas yaitu hydrozoa, scyphozoa, anthozoa, Cuboza. Kelas hydrozoa memiliki ciri-ciri hidup soliter atau berkoloni. Soliter berbentuk polip dan yang berkoloni berbentuk polip dan medusa dan Lebih sering ditemukan atau dominan dalam bentuk koloni polip sedangkan dalam bentuk medusa jarang ditemukan. Kelas scyphozoa memiliki ciri-ciri bentuk tubuh meyerupai mangkuk atau cawan, emiliki bentuk dominan medusa, Polip bagian atas akan membentuk medusa lalu lepas melayang di air, dan medusa akan melakukan kawin dan membentuk planula sebagai calon polip. Kelas anthozoa memiliki ciri-ciri hidup di laut bentuk polip, tidak punya fase medusa, polip bereproduksi secara aseksual dengan tunas, pembelahan dan fragmentasi, serta reproduksi seksual dengan fertilisasi yang menghasilkan zigot lalu menjadi planula. Sedangkan pada kelas Cuboza memiliki ciri-ciri mengalami metamorfosis lengkap dari polip hingga ke medusa payung (tubuh) berbentuk kotak, dan memiliki lensa mata yang kompleks. Terumbu karang merupakan filum coelenterate yang tergolong dalam kelas anthozoa. Terumbu karang merupakan salah satu ekosistem yang menjadi komponen terpenting suatu terumbu karang. Karang membentuk banguanan dari kapur dan hidupnya bersifat soliter dalam bentuk polip, sehingga digolongkan kedalam klasifikasi coelenterata.
Menurut Veron (1986) dalam Prihadi (2015), ekosistem terumbu karang adalah salah satu ekosistem yang unik dan kompleks yang dihuni oleh ribuan spesies yang ada di perairan. Komponen terpenting suatu terumbu karang adalah hewan karang yang termasuk filum coelenterata (hewan berongga) atau cnidaria. Kelompok pertama dalam prosesnya bersimbiosis dengan  zooxanthela dan membutuhkan sinar matahari untuk membentuk bangunan dari kapur yang kemudian dikenal dengan reef building coral. Sedangkan kelompok kedua tidak dapat membentuk bangunan kapur, sehingga dikenal dengan non breef building coralsm yang secara normal hidupnya tidak bergantung pada sinar matahari.

2.5     Reproduksi Coelenterata.
Sistem reproduksi dari Coelenterata terdiri dari dua yaitu reproduksi secara seksual dan reproduksi secara aseksual. Reproduksi aseksual dilakukan dengan peleburan sel sperma dengan sel ovum (telur) yang terjadi pada fase medusa. Letak testis di dekat tentakel sedangkan ovarium dekat kaki. Sperma masak dikeluarkan lalu berenang hingga menuju ovum untuk dibuahi yang kemudian membentuk zigot. Zigot tumbuh di ovarium hingga menjadi larva. Larva bersilia (planula) berenang meninggalkan induk dan membentuk polip di dasar perairan. Sedangkan reproduksi aseksual dilakukan dengan membentuk kuncup bagian kaki pada fase polip. Makin lama makin besar, lalu membentuk tentakel. Kuncup tumbuh disekitar kaki sampai besar hingga induknya membuat kuncup baru. Semakin banyak lalu menjadi koloni.
Menurut Al alam (2011) dalam Afriandi et al. (2012), Kondisi terumbu karang di Indonesia dan dunia akhir-akhir ini mengalami penurunan yang disebabkan berbagai faktor, baik dari lingkungan atau yang disebabkan oleh aktivitas manusia. Secara alamiah hewan mampu bereproduksi secara sexual dan asexual untuk memperbaiki dirinya ataupun untuk memperbanyak keturunannya. Akan tetapi proses tersebut membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Salah satu reproduksi karang secara sexual yang sedang banyak dipelajari saat ini adalah pemijahan masal dan metamorfosis planula karang. Informasi mengenai waktu pemijahan serentak, metamorfosis planula karang dan penyediaan benih karang guna keperluan restorasi di Indonesia belum banyak diketahui, terlebih lagi mengenai metamorfosis planula karang dengan bantuan Hym-248. Untuk menambah informasi tersebut maka dilakukan penelitian tentang waktu pemijahan serentak dan metamorfosis planula karang dengan bantuan Hym-248 di Pulau Sambangan, Kepulauan Karimunjawa, Jawa Tengah.

2.6 Peranan Coelenterata
            Coelenterata memiliki peranan dan manfaat diantaranya yaitu sebagai bahan pangan misalnya ubur-ubur asin, menjadi tempat hidup spesies lain dan, sebagai hiasan dalam akuarium. Di Kepulauan Seribu menurut keterangan dari penduduk setempat bahwa anemon-anemon ini dapat dimakan baik yang bertentakel panjang maupun yang bertentakel pendek. Bagi anemon yang bertentakel panjang dan bila terpegang tidak melekat mereka memberi nama "Rambu-Rambu". anemon yang tentakelnya pendek -pendek dan bila tersentuh lengket ditangan yaitu jenis Stylodactyla gigantea oleh pen-duduk Pulau Seribu diberi nama Kalamunat. Jenis Heteractis aurora di Laut Merah dikenal dengan nama "Anemon penggali" atau "The digging sea Anemon".
            Menurut Dunn (1981) dalam Hadi dan Sumadiyo (1992), Anemon laut adalah binatang yang seluruh tubuhnya lunak dan mempunyai sungut (tentakel) dibagian atas,serta mengeras dibagian bawah yang dipergunakan sebagai alat untuk menempel pada benda lain. Jika dipandang sangat menarik karena beraneka warna dengan lambaian tentakel yang selalu mengikuti gerakan air. Hidupnya yang menempel pada karang mati di daerah terumbu karang menjadikan pemandangan yang indah semakin bertambah cantik. peranannya dalam ekosistem terumbu karang adalah bahwa mereka saling melengkapi satu sama lainnya. Hal ini berarti bahwa kelompok kelas Anthozoa ini dapat bersifat persaingan terbatas atau mungkin mem-bentuk semacam kerja sama. perbedaan-perbedaan lingkungan yang sukar diketahui dalam faktor-faktor tersebut, seperti halnya kekeruhan air, perbedaan suhu dan terlindung atau tidaknya habitat dari kelas Anthozoa dapat menggeser keseimbangan dari keuntungan kelompok yang satu kepada kelompok yang lain.     
 
BAB III
PENUTUP

3.1     Kesimpulan
Berdasarkan uraian tersebut, kesimpulan yang dapat diambil yaitu :
1.             Coelenterata merupakan hewan invertebrata yang mempunyai rongga dengan bentuk tubuh seperti tabung dan mulut yang dikelilingi oleh tentakel.
2.       Ciri-ciri keseluruhan dari Coelenterata adalah tubuh radial simetris (silindris, globural, atau spherikal), Dinding tubuh dipoblastik (Eksoderm dan Endoderm) yang memiliki sel penyengat, Tidak memiliki anus, hanya memiliki mulut yang dilengkapi tentakel-tentakel, Sistempencernaan tidak lengkap hanya berupa rongga gastrovaskular, belum mempunyai alat pernafasan, sirkulasi, maupun alat ekskresi khusus.
3.       Struktur tubuh dari coelenterata pada umumnya terdiri dari empat bagian yaitu berupa keping mulut, badan, pangkal, dan tentakel-tentakel.
4.       Coelenterata terdapat beberapa kelas yaitu hydrozoa, scyphozoa, anthozoa, Cuboza.
5.       Sistem reproduksi dari Coelenterata terdiri dari dua yaitu reproduksi secara seksual dan reproduksi secara aseksual.
6.       Coelenterata memiliki peranan dan manfaat diantaranya yaitu sebagai bahan pangan misalnya ubur-ubur asin, menjadi tempat hidup spesies lain dan, sebagai hiasan dalam akuarium.



1.2         Saran
Berdasarkan kesimpulan tersebut, saran yang dapat diberikan yaitu :
1.       Sebaiknya ilmu tentang avertebrata air khususnya coelenterata lebih diperbanyak, sehingga semua orang tahu akan manfaat penggunaan coelenterata baik secara langsung maupun tidak langsung.
2.       Sebaiknya dalam pemanfaatan coelenterata lebih diperhatikan lagi pengaruhnya terhadap lingkungan, sehingga dalam pemanfaatannya, coelenterate tetap memiliki peran dalam lingkungannya.            

DAFTAR PUSTAKA
Hadi, N dan Sumadiyo. 1992. Anemon Laut (Coelenterata, Actiniaria), Manfaat dan  Bahayanya.
Oseana. 17(4) : 167-175.

Rembet, U.N.W.J. 2012. Simbiosis Zooxanthellae dan Karang sebagai Indikator Kualitas Ekosistem
Terumbu Karang. Jurnal Ilmiah Platax. 1(1) : 37-44.

Afriandi, A. Agus Trianto, dan Diah Permata Wijayanti. 2012. Pengaruh Hym-248 terhadap
Metamorfosis Planula Karang Acropora spp di Pulau Sambangan, Kepulauan Karimunjawa.
Journal of Marine Research.1(2) : 109-117.

Prihadi, D.J. 2015. Keberadaan Ikan Kodok (Antennarius maculates, Desjardins1840) di Pulau
Nusa Penida Provinsi Bali. Jurnal Akuatika. 6(2) : 187-197.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar